Tampilkan postingan dengan label kursi berfikir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kursi berfikir. Tampilkan semua postingan

Catwalk-nya Indonesia

Jreng !!
Lampu merah menyala...

Bagaikan peragawan para pedagang asongan, tukang koran, bahkan pengemis ikut menyemarakkan catwalk kota yang selalu mengepul dengan asap kendaraaan bermotor. Mereka menggasak barisan mobil dan motor yang tak pernah rapi. Pengemis beraksi dengan berbagai cara untuk mendapatkan keping emas. Pedagang bermandi peluh menjajakan dagangannya dg actionnya masing2. Bahkan pengamen itu tak jarang menampilkan mimik garang walau lagunya sentimentil... Ah, catwalk paling nyata yang sering kutemui yang tak akan kudapatkan di jalanan luar negeri yang sudah maju.

Indonesia...dari sejak aku SD kenal pelajaran IPS, sampe sekarang ganti2 presiden tetap saja masih sebagai negara berkembang...berkembang...berkembang...dan belum ganti menjadi negara maju (ah, mimpi kali ye )

Indonesia pun salah satu nominator papan atas dalam catwalk dunia untuk nominasi negara terkorup, negara termiskin, negara terbodoh, negara rentan bencana.... Wah, pokoknya ada 1001 nominasi yang bisa didapat oleh Indonesia. Bahkan dalam sebuah karikatur digambarkan Indonesia sebagai salah satu tempat yang terpilih untuk ajang "fear factor"...keren !!

Yah, begitulah potret catwalk di Indonesia....

sebuah pilihan epilog

cengkeraman itu tak lagi kuat
taring itu tak lagi menggigit

tergeletak...
terbaring...
terkulai...

berdebar menanti ketokan palu
atau lemparan pedang pembunuh
atau bunga berkabung penuh maaf

maaf..??

entahlah,
sebab cengkeraman itu masih menorehkan bekas
sebab taring itu masih membentuk seringai bersama mulut berlumur darah

sedang maaf ?
ia masih membumbung tinggi di cakrawala angan

Hero City, "masihkah ada maaf untuk seorang yg berlagak pahlawan?"

sketsa kota mati

mentari masih sungkan
menyembul dari selimut bumi
kaki-kaki tanpa alas telah giat berjalan
memikul isi perut bumi
untuk isi perut anak-anak yang lapar
meringis dengan tatapan nanar

saat mentari tak lagi malu-malu
pedati masih berkeliaran di jalan kota ini
becak masih setia memenuhi emperan toko yang pemiliknya orang nonpribumi
bus beradu sambil mengepulkan emisi
sesekali sumpah serapah sopirnya menghiasi siang yang tak ramah ini
sedang pohon-pohon nan asri
berganti menjadi kavling iklan dan pabrik komisi

saat mentari kembali ke peraduan sunyi
di ujung langitNya yang sepi
manusia tanpa alas kaki
kembali menemui buah hati
memberi sesuap nasi
yang telah kelaparan setengah hari
berharap ada rizqi di esok hari
untuk kembali berangkat saat mentari masih sembunyi

sedang manusia berdasi
penat melepas otak yang dipenuhi
nafsu duniawi
dengan tarian para dewi-dewi
yang tunduk saat komisi
diselipkan ke sandang yang mini

sedang manusia yang takut Illahi
merayu sukma, bergelut rindu di hati
di rumah suci nan jauh dari polusi
di sudut kota yang kian mati ini
mati dari hati nurani

saat mentari nampak esok hari
apa yang akan terjadi?

"Saat Air tak Lagi Tenang"


putih bening menjadi cokelat berarus...

diam berubah ganas...

semua kau libas tanpa ampun...

sebab hanya satu tujuan...

mengalir...

dan terus mengalir...


kau tertawa

saat manusia menggigil di atap kepasrahan

saat manusia tumbul tenggelam dalam kuasamu

saat ajal menjemput nyawa


kau tertawa saat manusia menangis...

"biar, salah sendiri kau buat aku seperti ini.."


kini lara yang tertinggal

pahit yang tersisa

namun asa manusia masihlah ada

untuk membuatmu tak menangis

namun tertawa...

dan tertawa bersama manusia


bukannya tertawa saat mereka menangis...

dan tertawa saat kau menangis...




"Lyn P" dan pesan perjuangan

Menginjakkan kaki di pangkalan lyn dekat kebun binatang di kotanya bonek ini membuatku malas, siang-siang lagi. Kotor, sesak dan selalu ramai dengan orang-orang yang lekat dengan musik dangdut, main gaple (atau judi ya), irama suara pengamen yang tidak karuan tangga nadanya (tangganya ilang jadi nadanya tak beraturan), bahkan peminta-minta yang tak lekang mampir dari satu lyn ke lyn yang lain.

Pandanganku langung tertumbuk pada lyn letter P yang menuju karang menjangan yang berada terdepan dari barisannya. Pasti segera berangkat, fikirku. Hmm niatku akhirnya surut, sebab belakang sudah penuh, bangku kanan tujuh, bangku kiri empat..trus bangku kayu dekat pintu sudah diisi 2 orang. Yang kosong tinggal depan ! dan sudah ada seorang bapak-bapak yang tersenyum-senyum di sana.

Ah, malas ! Segera kuputar badan dan kualihkan pandanganku pada lyn berikut yang sudah lumayan terisi penumpang. Lagipula aku tidak buru-buru, nggak usah naik lyn depan itu.

Baru dua langkah aku terhenti. Aku terpaksa menoleh kembali karena aku merasa akulah yang dikomentari “Oalah, mbak-mbak..kalo gak mau di depan mbok ya bilang…” ujar salah seorang bapak yang berdiri di dekat lyn pertama tadi. Yang segera diikuti dengan pindahnya bapak yang duduk di bangku dekat pintu keluar menuju bangku depan. Kulihat di bangku yang kini kosong itu seorang ibu muda berjilbab yang tersenyum padaku.

Akhirnya aku kembali menaiki lyn itu dengan tanpa memperhatikan dan mendengarkan gumaman orang. Biarin ! ga kenal juga, fikirku.

Tapi satu suara yang aku tak tahu darimana datangnya menimpali “masak belum maju sudah menyerah…jangan menyerah sebelum berperang mbak!” dalam hati aku membenarkan, tapi sisi hatiku yang lain berkata “yee..siapa juga yang mau perang..mentang-mentang tujuh belas agustus..”

Akhirnya lyn pun mulai merayap setelah formasi duduk yang sudah lengkap itu terpanggang di dalam lyn non-AC selama hampir sepuluh menit. Coba ada AC-nya atau kalo itu ga ramah ozon gimana kalo dibuat lebih manusiawi gitu. Orang kok dijejal-jejal. Hatiku masih menggumam. Sudah, tinggal duduk saja kok repot, disuruh turun tau rasa kamu. Mbok ya bersyukur masih bisa kemana-mana saat kuda besi belum di tangan…

Terminal Joyoboyo, 270707 : habis ashar di iain